Tahu Bulat dan Jingle yang Easy Listening

Pernahkah anda mendengar lagu ini

“Tahu bulat  digoreng ..dina katel… dadakannn …lima ratusan ..gurih-gurih enyoyyy ..”.

Yupp .. itulah lagu yang diputar terus menerus oleh penjual tahu bulat dengan mobil khas nya colt bak terbuka. Entah kompakan atau tidak warna mobilnya kebanyakan sama-sama warna biru. Ada hal yang menggelitik dan menarik saya untuk sekedar me-review tahu bulat ini, karena anak saya yang notabene baru masuk TK pun sangat fasih dan hafal dalam menyanyikan lagu itu, apalagi orang dewasa. Selain lagu ( jigle) nya yang easy listening, tidak lah heran jika lagu itu dihafal oleh anak-anak dan orang dewasa karena jingle itu diputar ratusan bahkan ribuan kali setiap harinya. Tidak percaya ? mari kita hitung ilustrasinya.

Jika lagu tersebut berdurasi 30 detik dan diputar terus menerus selama berjualan katakanlah rata-rata 5 jam sehari, maka dalam sehari lagu tahu bulat telah diputar sebanyak 720 kali. Bagaimana jika durasi jualannya menjapai 7 atau 8 jam ?  Wow ..bagaimana tidak nempel dikepala tuh brand tahu bulat. Itulah hebatnya jinggle sebagai rangkaian proses branding.

Sebenarnya apa sih jingle itu ?

Ada ulasan menarik seputar pengertian jingle yang di ulas oleh Nisa dalam blognya www.anisahanwar.weebly.com

Pengertian Jingle Iklan
Sebenarnya jingle iklan adalah pengulangan dari brand name dan slogan (tagline). Tujuan pembuatan suatu jingle biasanya untuk kepentingan yang long-lasting (tidak seperti radio spot, gimmick atau lagu iklan yang biasanya maksimum digunakan untuk satu tahun saja atau di dalam waktu-waktu tertentu). Jingle biasanya digunakan dan akan efektif untuk berbagai keperluan, namun yang utama adalah sebagai Signature Tune dari semua materi komunikasi brand tesebut (kecuali di print ad tentunya). Jingle biasanya diperlukan ketika stage of lifecycle dari produk tsb. masih sangat muda.  Contoh: pada saat launch. Sehingga, diperlukan peningkatan awareness secara cepat terhadap nama brand, dan juga slogannya (ingat, slogan is a positioning of the product). Tugas sang copy writer disini adalah membuat tagline yang catchy dan script lalu berkolaborasi dengan pembuat audio. Sehingga tagline dan musik  bisa “kawin” dengan sempurna. Jangan lupa nama brand sangat penting untuk “Terpampang Nyata”.

Oleh karena itu, dalam pembuatan jingle harus dipentingkan pada poin ‘memorability’ dari melodi, dan bukan enak atau tidak-nya sebuah jingle didengar. Boleh-boleh saja jingle tersebut ‘enak’ didengar namun apabila audience sulit untuk menangkap nama brand, sulit untuk mengingat nama brand, maka bisa dikatakan bahwa jingle tersebut gagal. Pakem ini sepertinya disetujui oleh banyak pihak termasuk client. Jika suatu saat anda yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang periklanan dan ketika presentasi script jingle, client sampai ‘menghitung’ berapa kali merk-nya disebut. Berarti, client anda betul-betul ngerti apa artinya jingle.

 

Jingle Yang Easy Listening

Kareakter masyarakat Indonesia dalam hal musik , pada umumnya lebih suka yang Easy Listening. Easy Listening memiliki arti gampang didengar, dengan begitu berarti jingle atau singing tone yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yaitu yang  memiliki Lirik yang mudah dihafalkan dan nada yang Slow.

Singing Tune

Singing tune (advertising song) adalah lagu pengantar iklan dengan aransemen ulang ataupun tidak.  Pada dasarnya singing tone diciptakan untuk menambah daya tarik pada brand tsb.  Ada kiat yang menarik tentang advertising song ini… if you can’t sell anything, just sing it!  Jadi, advertising song sangat direkomendasikan bagi produk-produk yang so-so, yang biasa-biasa aja, yang ngga punya USP ( unique selling point ), yang juga disebut sebagai ‘parity products’. Advertising song juga bisa menjadi ‘pelarian’ bagi copywriter yang tak mampu membuat ide besar dalam strategi kreatif brand yang akan diiklankan.

Apa Perbedaan Jingle dengan Singing Tone ?

Jingle adalah pengulangan brand name dan slogan (tagline) dengan ritme tertentu. Sedangkan Singing Tune (Advertising Song) adalah penggunaan lagu dalam sebuah iklan yang hanya diaransemen ulang musiknya saja. Atau bisa juga disebut, iklan yang dinyanyikan dengan melodi tertentu. Berdasarkan penjelasan singkat diatas, sudah terlihat kan perbedaan antara Jingle Iklan dan Singing Tune (Advert. Song).

Kalau dirumusin dengan sederhana kira-kira begini :
JINGLE adalah : brand name, brand name, brand name, slogan, slogan, slogan, brand name, slogan, brand name, slogan….lalalala…brand name, slogan, brand name slogan… dst.
ADVERTISING SONG adalah: product benefit, product benefit, product benefit, product benefit, product benefit, …dst lalu diakhiri dengan brand name slogan. Begitu ulasan Nisa dalam blog nya.

Kembali ke urusan tahu bulat , hehe. Menurut pengertian di atas, lagu yang diputar terus menerus oleh pedagang tahu bulat adalah termasuk kategori jingle, karena disana ada unsur brand, slogan, dan tagline.

Jingle Yang Serbaguna

Ada hal menarik dari jingle tahu bulat yang sering kita dengar. Jika kita perhatikan kata per kata maka kita akan menemukan semua aspek promo disitu,lengkap mulai dari nama produk atau brand ( tahu bulat), proses produksi ( digoreng ), harga ( lima ratusan ) dan benefit / uniqw selling point ( digoreng dadakan ) dan tagline ( gurih-gurih enyoyy ). Nah ..jika jiggle sudah komplit kayak gini, maka energi penjual untuk menawarkan produknya akan sangat efisien, tidak perlu teriak-teriak dan bisa fokus untuk melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya serta memikirkan lokasi strategis  untuk sasaran penjualan berikutnya.

Menarik bukan ?