I-BRAND, Dimensi Baru Membangun “Brand” Pribadi

Bicara tentang branding selalu menarik ( bagi yang senang dengan dunia marketing-tentunya). Tapi kali ini, ada dimensi lain yang akan kita bahas, yaitu bagaimana membangun sebuah brand yang solid untuk seseorang, atau diri kita. I-Brand memang ada yang mengartikan sebagai istilah dari Internet branding, namun bukan itu yang akan kita bahas. I-Brand disini adalah branding “I” atau “Aku”.

 

Menurut ulasan dari Ibu Amalia ( seorang Brand Colsultant), I-Brand hampir mirip dengan personal brand, dimana tokoh utama yang di-branding adalah diri seseorang. Perbedaannya, jika branding untuk personal pada umumnya dilakukan dalam rangka menjadikannya seorang public figure atau ahli/tokoh tertentu; dimensi I-Brand lebih terbebas dari tujuan tersebut. Branding ”I” atau ”Aku” mengajak seseorang memikirkan goal yang hendak diraih, apapun bentuknya. I-Branding lebih berorientasi pada diri sendiri, mewujudkan mimpi-mimpi pribadi yang berkaitan dengan pekerjaan. Tidak harus menjadi seorang CEO atau public figure untuk mempunyai sebuah I-Brand yang solid. Strategi I-Brand adalah strategi pembinaan diri untuk menjadi seseorang yang punya nilai tinggi di mata stakeholdersnya.

Pernahkah kita berfikir, merenungkan dan merencanakan akan menjadi seperti apa kita lima atau sepuluh tahun mendatang ?

Seringkali kita bekerja tanpa tahu persis kemana muaranya, menuju kemana kita bergerak. Kehidupan mengalir begitu saja, menikmati apa yang ada di hadapan mata. Pernahkah terpikir untuk berhenti sejenak, dan merenung: dalam tiga tahun, posisi apa yang ingin kita raih, ilmu apa harus sudah dikuasai, dll. Untuk meraih tempat atau posisi yang kita inginkan, selain kerja keras, kita juga perlu merencanakan dan mengatur strategi, mengemas diri dan melakukan branding dengan baik. Ini yang disebut dengan I-Branding.

Sebagai bagian dari sebuah perusahaan ( karyawan ) Ada tips yang bisa kita lakukan dalam merencanakan I-Branding menurut Gary, yaitu : unik, relevan, kredibel, esteem,dan knowledge. Secara garis besar, kelima komponen tersebut tergambar dalam pertanyaan yang harus kita jawab antara lain: Apakah kita mempunyai keunikan atau differensiasi yang bernilai? Ada berapa orang lagi selain kita yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? Dalam melaksanakan tugas, apakah kita selalu siap untuk memberikan yang terbaik? Apakah kita adalah pribadi yang dapat diandalkan dan dipercaya? Seberapa tinggi pengetahuan yang kita miliki tentang apa yang sedang kita geluti, mengertikah terhadap apa yang terjadi di tingkat konsumen, di tingkat perusahaan dan industrinya?

Jika kita amati, tips di atas tidak berbeda jauh dengan kunci sukses pembangunan sebuah brand produk atau perusahaan. Step-step yang harus dikerjakan dalam membangun dan membina I-Brand setara dengan brand lainnya.

 

Perbedaan I Brand dengan Personal Brand

Perbedaan utama antara personal brand dengan I-Brand mungkin bisa dilihat dari tingkat intensitas dan cara berkomunikasi dengan target atau sasaran yang kita tuju. Personal branding hampir tidak mungkin dapat dilakukan tanpa bantuan media masa. Tidak demikian halnya dengan I-Brand. Mengkomunikasikan siapa diri kita dan memproyeksikan kemampuan, keunikan dan differensiasi personal tidak harus melalui media formal. Disini yang lebih berperan adalah media informal, dimana kontak langsung dengan target audience ( rekan kerja atau entitas perusahaan lainnya ) mendominasi terciptanya citra I-Brand.

Dalam keseharian kita di kantor, penilaian orang terhadap kita berjalan terus menerus. Dan bagaimana attitude kita ditempat kerja, cara berpakaian kita, tata bahasa juga sangat berpengaruh terhadap I-Brand seperti apa yang akan kita raih.

Jika diperusahaan dalam membranding produk kita kenal istilah CSR ( Corporate Social Responsibility ) maka jika diterapkan dalam I-Branding, istilah tersebut dikenal dengan  ’personal social responsibility’ (PSR). Artinya sudah berapa banyakkah kontribusi kita terhadap pembinaan rekan atau bawahan di lingkungan tempat bekerja? Di lingkungan dimana kita tinggal? Atau sejauh mana kontribusi kita di masyarakat luas? Ini penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Seperti halnya prinsip corporate social responsibility, apa yang dikembalikan ke masyarakat pada akhirnya akan memberikan arti bagi pengembangan I-Brand yang solid.

Dengan membangun brand pribadi, kita akan memiliki nilai tawar lebih tinggi dari kompetitor. Menurut Galud Setia Winahyu, M.Psi , People Development Manager ECC UGM, bahwa branding diri akan membuat diri kita lebih mudah dikenal orang karena keunikan atau keahlian yang kita miliki sekaligus berguna untuk memperluas jaringan.

Ada tips menarik dari Galuh yang dilansir oleh careernews.id berikut ini :

1. Identifikasi Diri

Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengenali potensi dan kemampuan diri. Dengan demikian, Anda tahu apa yang ingin Anda ‘pasarkan’ dari diri Anda. “Sekarang semua orang bisa saja melakukan banyak hal tapi hanya sedikit-sedikit. Cobalah untuk mampu banyak atau ahli di satu bidang. Cari keunikan Anda yang beda dari orang lain,”.

2.    Posisikan Diri
Tempatkan brand Anda di tempat yang unik, relevan, sekaligus punya keberagaman. Dengan demikian, Anda dapat lebih cepat dikenal orang tanpa harus melenceng dari kepribadian Anda dan apa yang Anda kerjakan.

3.    Membuat Desain
Anda juga perlu membuat desain diri sendiri agar dapat lebih mudah memposisikan diri. Terkadang memang sulit membuat diri Anda cepat dikenal bila kepribadian tidak terlalu menarik atau tidak berkesan bagi orang lain. Di sinilah pentingnya Anda membuat desain diri. Bila Anda adalah orang yang ramah, tunjukkan keunikan Anda tersebut, misalnya dengan menyapa dan menanyakan kabar kepada rekan kerja setiap pagi.

Desain diri juga dapat Anda tunjukkan secara jelas, salah satunya pada kartu nama atau media sosial. Misalnya, Anda berprofesi sebagai fotografer, sementara di luar sana juga banyak fotografer yang saling bersaing memperebutkan job. Anda dapat mempelajari keahlian fotografi yang lebih spesifik, misalnya fotografi alam liar. Anda dapat mencantumkannya pada kartu nama, dengan menyebut diri Anda wildlife photographer.

Tuliskan juga keahlian atau keunikan Anda di profil media sosial. Jangan lupa untuk menyesuaikan posting-posting Anda sesuai dengan brand pribadi yang Anda bangun. Bila Anda seorang wildlife photographer, buatlah postingan senada dengan profesi Anda, misalnya mengenai tip memotret satwa di hutan.

4.    Implementasi Brand
Dalam menjalankan brand pribadi ini, Anda perlu memperhatikan tiga hal, yakni clarity, consistency, dan constansy. Clarity artinya Anda harus jelas dalam menampilkan diri. Jangan sampai orang lain menangkap kesan yang salah dari diri Anda.

Consistency berarti Anda harus konsisten dengan brand pribadi yang Anda bangun. Misal hari ini Anda berpenampilan dengan cara A, kemudian lain hari berpenampilan dengan cara B, orang akan sulit mengingat Anda. Sedangkan constansy berarti sebisa mungkin Anda hadir saat dibutuhkan.

“Branding harus dilakukan secara konsisten dan bertahap. Karena itulah dari awal Anda harus sudah tahu kemampuan diri. Tanyalah pada diri sendiri dulu, apakah sudah sesuai dengan apa yang Anda mau dan Anda mampu,” lanjut Galuh.

Selain dapat membantu Anda memperluas jaringan, dengan membangun brand pribadi, berarti Anda telah mampu mengenali potensi diri Anda. Jadi, Anda lebih mantap untuk terus mengembangkan diri, terang Galuh.

Nah, jika kita memang serius untuk merencanakan dan membranding diri mau seperti apa kita lima atau sepuluh tahun mendatang, maka mulailah dari step paling awal yaitu mulai mendidentifikasi diri anda sendiri apa kekurangan dan apa kelebihan yang bisa kita tampilkan.

Yah ..kecuali kalau kita memang ingin seperti gini-gini aja, ..mengalir apa adanya. Mirip remaja yang lagi pacaran ketika ditanya “mau dibawa kemana hubungan kita ?” hehe.

Bagaimana I-Brand anda ?