Apa Jadinya Jika Sate Ini Tak Ada ‘Anggrek’ nya

Saat itu saya sedang dibonceng oleh seorang rekan kerja  menggunakan sepeda motor. Ketika kami sampai di jalan riau ( kota Bandung ), rekan saya bercerita bahwa tukang sate yang ada di jalan ‘itu’ ( ketika itu dia tidak tahu namanya) selalu ramai, pembeli rela ngantri berpanjang-panjang di pinggir jalan tanpa menghiraukan bau asap yang mungkin akan menempel di baju mereka.

Ketika saya sampaikan bahwa nama lapak jualan yang tertera di banner penutup lapak nya itu adalah ‘Sate Anggrek’ , karena lokasi nya percis diujung jalan anggrek.

sate-anggrek

Dahsyatnya lagi, ketika bulan puasa pembeli sudah ngantri sejak pukul empat sore hanya untuk membeli 10 tusuk sate. Hebat bukan ?

Namun apa jadinya jika sate itu tidak punya nama ? katakanlah hanya tulisan ‘sate madura’ identitas yang tertera di kaca gerobaknya. Saya yakin popularitasnya tidak setenar sekarang. Jika kita tanya ke orang bandung ‘sate apa yang paling enak di bandung?’ pasti jawaban salah satunya adalah ‘sate anggrek’.

Jika tanpa kata ‘anggrek’ , mungkin ketika ada yang nanya ‘apa sate yang paling enak di Bandung?’ jawabannya adalah ‘itu tuh ..sate yang ada diujung jalan anggrek, deket jalan riau yang disamping nya ada pohon besar ….bla..bla..bla, dan mungkin akan lebih panjang dari ini. Namun jika sudah ada brand ‘sate anggrek’ yang tertulis di banner nya, orang akan dengan mudah mengatakan ‘sate anggrek, lokasinya di jalan anggrek’ ringkas & padat bukan ? itulah branding .

Jika pemilik sate pusing untuk menemukan merek/brand yang tepat ,yang bisa menggambarkan keenakan sate nya, hal mudah yang bisa dipilih adalah nama jalan tepat lapak nya dibuka, misal ‘sate anggrek, sate riau, ..atau sate merdeka dan kesemuanya adalah nama jalan. Mudah bukan ? ..itulah kekuatan branding.